Showing posts with label Kasus. Show all posts
Showing posts with label Kasus. Show all posts

Ketua PA 212 : Saya dengar kasus Chat Palsu Habib Rizieq disetop

Ketua PA 212 :  Saya dengar kasus Chat Palsu Habib Rizieq disetop

Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Ma'arif menyebut kasus dugaan chat pornografi Habib Rizieq di Polda Metro Jaya telah di SP3 (dihentikan). Menurut Slamet, kasus itu dihentikan karena tidak memenuhi unsur hukum. "Yang kita dengar di kota Mekah itu sudah keluar karena tidak memenuhi unsur hukum," kata Slamet saat dimintai konfirmasi, Rabu (6/6/2018). Slamet belum menjelaskan secara detail mengenai kapan kasus itu dihentikan. Dia menyerahkan informasi selanjutnya kepada Mabes Polri. "Ya yang saya dengar kemarin bisik-bisik di Istana Mekah seperti itu, kepastian bisa ditanyakan ke Karo Penmas Mabes Polri Brigjen M Iqbal," tutur dia.

Pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera juga menyampaikan hal serupa. "Kasus chat HRS sudah di-SP3," ujarnya.

Polda Metro Jaya yang menangani kasus ini telah dicoba dihubungi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan akan mengecek dulu. "Dicek dulu," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Rizieq ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan chat pornografi pada Mei 2017. Sebelumnya, polisi telah menetapkan Firza Husein sebagai tersangka kasus yang sama pada 15 Mei 2017.

Keduanya menjadi tersangka setelah chat antara diduga Rizieq dan Firza tersebar melalui situs baladacintarizieq.com. Keduanya membantah tuduhan skandal tersebut.

Satu bulan setelah ditetapkan sebagai tersangka, Rizieq kemudian terbang ke Arab Saudi dengan alasan hendak melaksanakan ibadah haji. Namun, setelah ibadah haji usai, Rizieq tidak kunjung pulang.

Setelah itu, kabar Rizieq akan pulang itu terdengar beberapa kali. Namun Rizieq tidak kunjung pulang. Polisi bahkan disebut telah memeriksa Rizieq di Saudi.

Sumber : detik.com

Gegara Pelecehan di Media Sosial, Akun Instagram Marko Simic Diserbu Penggemar Via Vallen

Gegara Pelecehan di Media Sosial, Akun Instagram Marko Simic Diserbu Penggemar Via Vallen

Kejadian tak menyenangkan yang dialami pedangdut Via Vellen menjadi perbincangan hangat netizen, Selasa (5/6/2018). Via menyebut pelaku pelecehan secara verbal yang diterimanya berasal dari pesepak bola tereknal.

Melalui Instgram pribadinya, Via mengungkap mendapatkan pesan tak senonoh dari pesepak bola terkenal di Indonesia.

Setelah mencuat kabar itu akun Instagram striker andalan Persija Jakarta, Marko Simic tiba-tiba diserbu fans Via Vallen, Vianisty.

Di Instagram pribadi Marko Smic pada foto terbaru pemilik nomor punggung 9 Persija itu diserbu netizen, Selasa Pagi.

Di antara netizen melontarkan pesan kekecewaan kepada Simic.

Entah apa yang membuat netizen yakin bahwa pesepak bola yang dimaksud Via Vallen adalah Simic.

Netizen mengatakan bahwa Via Vallen seharusnya tak mendapatkan perlakuan tak menyenangkan tersebut.

Warganet juga mengenaal Via sebagai penyanyi dangdut yang sopan.

ewang7058: "Kalau bener ente pelakunya,saya sebagai vianisty meresa terhina,caranya itu!"

muhammaddianka: "Kenapa harus Via Valen @viavallen bro @markosimic_77 , Via itu orang baik2, sopan santun."

ewang7058: "Selamat di serbu ultras vianisty sama holigan koployang tak kalah ganas dari suporter club manapun juga di Indonesia wkwkwkk"

wanda_lv1933: "Simic gw juga vans via vallen,,,lu pikir via vallen itu lon** apa,,via vallen itu cewek nya baik."

oemarhamdani: "Anjaayy pasukan Vianisty kesini semua, kurang ajarr umakk Mic simicc.."

Sebelumnya diberitakan bahwa Via Vallen tengah geram dengan seorang pesepak bola yang mengirim pesan tak senonoh ke Instgram-nya.

"I Want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes," begitu bunyi pesan yang diterima Via Vallen.

Via lalu menscreenshot pesan itu dan memostingnya di Intagram Stories.

Via pun menambahkan sejumlah kalimat bahwa dirinya kesal.

"Nggak kenal dan nggak pernah ketemu Tiba2 nge DM dan ngirim text gambar kayak gini," tulis Via.

Penyanyi tembang 'Sayang' itu menyebut bahwa sosok itu adalah pesepak bola terkenal di Indonesia.

"As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country right now,"

"I'am not a kind that girl. Dude!!!," tegas Via.

Tak Cuma memosting pesan gambar tak senonoh itu, Via juga mengunggah screenshot percakapannya dengan pemain sepak bola itu.

Bahkan dari percakapan itu si pengirim mempertanyakan kenapa Via menscreenshot pesan yang dia kirim.


"U ask me why i'am taking a screenshot? I get shocked," tulis Via.

Meski mengaku kesal, Via tak akan membuka identias pesepakbola yang akun Istagramnya telah memiliki tanda centang biru tersebut.

"Don't be afraid bro, i will not telling people who u are,"

"I hope u will be a better person next time," lanjut Via.

Sumber : Tribunnews

Kasus Siswi SMP Dihamili Siswa SD, Menikah Bukan Solusi

Kasus Siswi SMP Dihamili Siswa SD, Menikah Bukan Solusi

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tulungagung, Ipda Retno Pujiarsih, mengakui kalau pihaknya tidak bisa melakukan pemeriksaan dan pemanggilan dalam kasus Siswi SMP di Tulungagung, DEN (16) yang diketahui hamil enam bulan akibat berhubungan bebas dengan kekasihnya yang masih kelas V SD, HEM (14).

"Penanganan hukum, belum. Sementara belum ada yang melaporkan tentang kejadian itu kita masih melakukan penyelidikan. Kalau timbul laporan ke polisi akan kita lakukan pemeriksaan dan pemanggilan," kata Retno, Kamis, 24 Mei 2018.

Retno menyebut dalam kasus ini baik siswi dan siswa sama-sama menjadi korban. Sebab, keduanya adalah anak di bawah umur. Baik polisi dan dinas-dinas di pemerintahan setempat diharapkan memberikan solusi terbaik.

"Karena kalau kita lihat disini ini kan sama-sama korban. Kecuali kalau satu itu dewasa, korbanya anak-anak pelakunya dewasa. Karena di bawah umur semua, anak-anak ini korban," ujar Retno.

Retno menilai kedua siswa korban dari kedua orangtua yang kurang peduli dalam menjaga sang buah hati. Akhirnya kedua bocah yang masih di bawah umur ini dewasa sebelum waktunya.

"Mungkin korban dari kedua orangtua yang kurang peduli, kurang bisa menjaga anaknya akhirnya bisa terjadi seperti itu. Jadi kesalahan bukan semua ke anak, orangtua pasti ikut. Kenapa anak kok sampai terjadi ini kan pengawasannya kurang," kata Retno.

Kasus ini bermula, ketika dua bocah ingusan itu bertemu saat berwisata di Pantai Gemah pada Februari 2017. Di pantai itu, keduanya berkenalan dan tukar nomor telepon genggam. Kemudian keduanya menjalin hubungan asmara.

Mereka pacaran hingga kebablasan. HEM mengajak DEN berhubungan badan di rumah kosong milik orangtua HEM pada November 2017. Hubungan badan itu dilakukan berulang-ulang, terakhir pada Maret 2018 lalu.

Pada Jumat 18 Mei 2018, DEN mengeluh sakit lalu dibawa keluarganya ke Pusat Kesehatan Masyarakat untuk diperiksa. Saat itu, DEN diketahui hamil dan kandungannya sudah berusia enam bulan.

"Yang jelas kalau dari awal dari saya pernikahan itu bukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Karena permasalahan ini bukan terus diselesaikan dengan dinikahkan," ujar Retno.

Beredar Video Porno Diduga Mirip Aryo Djojohadikusumo

Beredar Video Porno Diduga Mirip Aryo Djojohadikusumo

Video porno dengan pemeran pria yang disebut-sebut mirip anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Aryo Djojohadikusomo beredar di dunia maya. Video yang diberi judul “Aryodj di Apartemen” itu pun kemudian viral.

Video itu diketahui berdurasi sekira 2 menit 35 detik. Dalam video tersebut, ada seorang pria dan 2 wanita. Si pemeran pria melakukan adegan syur dengan seorang wanita. Sementara wanita lainnya diminta merekam.

Ketua DPP Gerindra, Habiburokhman, membantah pria dalam video itu adalah Aryo Djojohadikusomo. Ia menyebut video yang beredar di dunia maya tersebut merupakan daur ulang atas kasus serupa sekira setahun lalu. Ia mengatakan, pria di video tidak mirip dengan anggota Komisi VII DPR itu.

“Kasus ini isu daur ulang, sudah pernah diributkan sejak April tahun lalu. Menurut saya orang dalam video tersebut tidak mirip dengan Pak Aryo, zaman sekarang teknologi maju bisa saja semua itu sengaja direkayasa,” katanya saat dihubungi wartawan, Senin (28/5/2018).

Menurut Habiburokhman, video porno itu seharusnya tidak tersebar di dunia maya. Lanjut dia, Kemenkominfo seharusnya bisa menghapus video itu dari dunia maya.

“Terlepas siapa dalam video tersebut, seharusnya video tersebut tidak bisa beredar dan seharusnya Kemenkominfo menjalankan fungsinya mencari dan memusnahkan video tersebut dari dunia maya,” katanya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak terpancing untuk ikut menyebarkan video itu karena jelas melanggar Pasal 45 UU ITE yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara.

“Terlebih kita sedang menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan agar menjauhkan diri dari hal-hal seperti itu,” pungkasnya.

Penyebaran Paham Radikal di Kampus Sudah Mengkhawatirkan

Menristek Dikti Moh Nasir bersama Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius , saat memberikan kuliah umum bertema Resonansi Kebangsaan dan mencegah Radikalisme di hadapan sekitar 5.000 mahasiswa dan para rektor dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swast

Penyebaran paham radikal terorime sudah mulai sistemik dan sangat mengkhawatirkan. Bahkan penyebaran tersebut sudah terlihat sistemik dengan masuk ke instansi-instansi pendidikan termasuk ke perguruan tinggi. Hal tersebut tentunya memerlukan perhatian yang khusus bagi para rektor perhuruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius , saat memberikan kuliah umum bertema “Resonansi Kebangsaan dan mencegah Radikalisme” di hadapan sekitar 5.000 mahasiswa dan para rektor dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta se-wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam acara “Deklarasi Semangat Bela Negara dari Semarang untuk Indonesia” yang berlangsung di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sabtu 6 Mei 2017.

“Penyebaran paham radikal di lingkungan kampus sekarang ini sudah sangat gawat sekali. Sudah tidak ada sekat. Kalau kita tidak gerak cepat untuk mengawasinya tentunya ini akan membahayakan terhadap anak-anak kita nantinya dan tentunya bangsa ini sendiri,” ujar Kepala BNPT.

Kekhawatiran akan radikalisasi di perguruan tinggi yang disampaikan Kepala BNPT ini berangkat dari peristiwa Deklarasi Khilafah oleh salah satu organisasi massa di salah satu kampus perguruan tinggi negeri di Jawa Barat beberapa hari lalu.

“Kejadian itu tentunya sangat kami sayangkan. Seharusnya pihak kampus sudah bisa mencegah kegiatan tersebut dari awal. Begitu sudah kejadian dan ramai diberitakan seperti itu jangan malah bilang tidak tahu mengenai organisasi itu,” ujar mantan Kabareskrim Polri ini.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini  pun meminta pengelola perguruan tinggi di seleuruh Indonesia untuk semakin meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas para mahasiswanya, terutama terhadap organisasi kemahasiswaan yang bersifat eksklusif.

“Radikalisme bukan hanya karena kemiskinan, kebodohan, kekecewaan ataupun ketidakadilan. Karena saat ini radikalisme sudah terpapar di kaum intelektual. Termasuk adanya deklarasi Khilafah itu tadi, pihak kampus harus bisa mendeteksi kegiatan yang dilakukan mahasiswamya. Kami harapkan ini tidak terjadi lagi di institusi pendidikan lainnya,” katanya dengan tegas.

Kepada pada Rektor yang hadir Kepala BNPT juga  meminta agar perekrutan tenaga pendidik juga harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai penyebaran radikalisme justru masuk melalui ajaran-ajaran dari tenaga pendidiknya itu sendiri.

“Penyaringan harus benar-benar ketat dalam merekrut tenaga pendidik. Contohnya di salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur dari info yang saya dapat. Ada dosen yang sudah  mengintimidasi mahasiswanya untuk tidak diberikan nilai baik jika tidak mau nurut dengan apa yang dijarkanya dalam artian ada ideologi-ideologi lain yang diajarkan dosen itu ke muridnya,” kata mantan Kadiv Humas Polri ini.

Untuk itu pihaknya akan terus berkoordinasi dan bekerjasama bersama perguruan tinggi melalui Kemenristekdikti untuk memerangi radikalisme tersebut dengan berbagai upaya. Dirinya  meminta guru, dosen, rektor, dekan dan kaum intelektual untuk lebih memperhatikan siswa atau pun mahasiswanya. Karena untuk menjadi radikal seseorang tentunya tidak bisa serta merta. Ada proses dan waktu, bahkan mendaoat faktor lainnya.

"Nah ketika ada mahasiswa yang sedang menyendiri, tertutup, itu harus diwaspadai. Harus diberi perhatian jangan dibiarkan begitu saja. Kalau menyendirinya dalam hal kebaikan itu tidak apa-apa, kalau mengarah ke radikalisme kan ini harus diwaspadai,”tuturnya

Karena kesendirian menjadi faktor mudahnya seseorang termakan bujuk rayu kelompok radikal atau terdoktrinasi. Tak ada jalan lain, selain mewaspadai itu sejak dini. “Jangan sampai nanti sudah radikal, sulit akan mengembalikan seperti semula. Karena sudah banyak kejadian seperti itu. Contohnya seperti yang di deportasi dari Turki beberapa waktu lalu, itu rata-rata berpendidikan tinggi semua," tuturnya.

Dalam paparannya pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962  ini juga mengatakan bahwa, nasionalisme Bangsa Indonesia sudah tereduksi dengan hebat akibat faktor globalisasi. Menurutnya, sebagian besar anak muda Indonesia sekarang sudah melupakan sejarah bangsanya. Bahkan sudah banyak anak muda atau pelajar di negeri ini yang sudah tidak hafal lagi nama pahlawannya.

“Bahkan adat istiadat di daerahnya mereka juga sudah banyak yang tidak tahu. Ini kan masalah kebangsaan dan ini yang harus kita waspadai di tengah era globalisasi ini. Karena kalau kita tidak menjaganya lama-lama nasionalisme kita akan luntur,” ujar Alumni Akpol 1985 ini.

Menurutnya, Sumpah Pemuda dideklarasikan para anak muda bangsa dari berbagai pulau yang ada di Indonesia dengan berbagai etnis budaya dan agama pada tahun 1928 yang artinya  17 tahun sebelum Indonesia merdeka.

“Itu 17 tahun sebelum merdeka saja mereka sudah berani berikrar. Tinggal sekarang bagaimana eksistensi itu menjadi tantangan untuk dipertahankan dan dilestarikan di tengah era globalisasi yang saat ini terus berkembang.Sehingga generasi muda kita mampu merawat bangsa ini dengan kemajemukannya. Apakah itu akan ditinggalkan?. Harus ada upaya pencerahan untuk mengingatkan kembali cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia dengan mengulas kembali sejarah bangsa kepada kaum intelektual,” ujarnya,

Mantan Wakapolda Metro Jaya ini mengatakan, penyebaran paham radikal melalui Tekhnologi Informasi (IT) sekarang ini tidak bisa dilokalisir. “Yang bisa dilakukan saat ini adalah meminimalisir hoax dengan memperketat kontrol sosial,” ujarnya

Karena paham radikal sendiri saat ini bisa disebarkan melalui doktrin pada media online. Kelompok radikal telah menyebarkan hoax radikal di antaranya dengan berisi hasutan, menyebarkan kebencian dan kekerasan, memberikan pemahaman jihad sempit, berisi SARA.

“Selanjutnya mereka mudah  menjelek-jelekkan kelompok lain dengan mengajak pembacanya untuk mengikuti kemauan kelompok tersebut. Jika ada yang tertarik selanjutnya dibaiat, bisa dengan cara soft atau hard, tergantung pada individunya,”  kata Suhardi.

Dengan melihat gambaran itu semua menurutnya, tantangan yang dihadapi dalam menjaga dan keberlangsungan Indonesia bergantung pada kemampuan pemuda dalam menangkal pengaruh buruk dari pihak luar. dalam kehidupan bernegara tanpa batas.

“Kami meminta kepada adik-adik generasi muda ini harus meneguhkan nasionalisme dengan jiwa, harus membangun karakter manusia seutuhnya dengan dasar hati yang dipenuhi suara kejujuran," kata mantan Kapolres Metro Jakarta Barat dan Kapolres Depok ini mengakhiri.

Sementara itu  Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Moh Nasir yang turut hadir dalam kuliaqh umum tersebut bersama para Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri  dan Swasta  se-Jawa Tengah dan DIY juga menyatakan bahwa kampus harus bebas dari paham radikalisme dan harus bisa menjaga citranya sebagai lembaga pendidikan dengan mengajarkan nilai-nilai dan budaya bangsa yang benar untuk mencetak pemimpin negara ini dimasa yang akan datang

“Yang harus dipahami, kalau terjadi radikalisme, berarti kita tidak menerima perbedaan. Di Indonesia tidak bisa seperti itu karena kita hidup di antara keberagaman. Jadi, mari bersama-sama kita tangkal paham yang bisa merusak generasi bangsa di masa depan. Dan kampus harus bebas dari radikalisme, bebas dari kekerasan, bebas dari narkoba. Karena semua itu akan merusak masa depan bangsa Indonesia,” kata Moh Nasir.

Acara tersebut ditandai dengan Deklarasi untuk menyepakati penolakan terhadap penyalahgunaan narkoba, dan segala bentuk paham radikalisme, dan terorisme yang membahayakan Pancasila dan keutuhan NKRI. Turut mendampingi Kepala BNPT dan Menristekdikti di acara kuliah umum tersebut yakni Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Fathur Rokhman M.Hum.

Muhaimin Iskandar Nilai Ucapan Amien Rais Panaskan Tensi Politik

Muhaimin Iskandar Nilai Ucapan Amien Rais Panaskan Tensi Politik

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengatakan tensi politik tengah memanas setelah politikus senior Partai Amanat Nasional Amien Rais menyebutkan ada partai Allah dan partai setan. "Ada yang ngomong partai setan dan partai Tuhan, sungguh terasa panas," kata Muhaimin di Lumajang, Ahad petang, 15 April 2018.

Amien Rais membedakan partai Allah dan partai setan saat tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh Berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat, 13 April 2018.

Melihat situasi tersebut, ditambah tensi politik global yang memanas seperti perang timur tengah menjadi perang zona regional bahkan global, Muhaimin khawatir ucapan Amien berimbas pada perpecahan bangsa. "Ini akan berpengaruh pada dunia kita di sini, ancaman perpecahan bangsa," kata Muhaimin.

Untuk mendinginkan tensi politik, kata Muhaimin, perlu bersalawat untuk keselamatan bangsa. "Semuanya yang hadir, sebelum salat, setelah salat, sebelum acara, ketika acara, bahkan kalau perlu sebelum pernikahan atau perkawinan tolong dibaca (salawat keselamatan bangsa). Karena salawat keselamatan ini sangat dibutuhkan," katanya.

Dengan salawat keselamatan itu, kata Muhaimin, keadaan semuanya adem dan semuanya selamat. "Bukan karena ada nama Muhaimin dalam (lantunan) salawat. Salawat yang langsung kepada Allah," ujarnya.

Muhaimin sendiri tidak merasa perlu untuk berkomentar ihwal ucapan Amien Rais. "Yang penting PKB adalah partai Islam, basis NU (Nadhlatul Ulama) yang sangat soleh," kata Muhaimin.

Misbakhun yakin Boediono dan Sri Mulyani bakal susul Budi Mulya

Misbakhun yakin Boediono dan Sri Mulyani bakal susul Budi Mulya

Inisiator Angket Bank Century, Mukhamad Misbakhun merasa yakin jika kasus Century bakal bermuara ke Wakil Presiden Boediono. Dalam kasus tersebut, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menahan Budi Mulya selama 20 hari mendatang di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Cipinang cabang KPK.

Misbakhun menuturkan, Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Miranda Goeltom sebagai Deputy Senior BI patut pula terseret dalam kasus tersebut. Sebab, keputusan pencairan dana bailout yang dilakukan Bank Indonesia bersifat kolektif kolegial.

"Dalam Struktur Dewan Gubernur Bank Indonesia ada Gubernur BI, Deputy Gubernur Senior, Deputy Gubernur BI. Dewan Gubernur Bank Indonesia sesuai UU Bank Indonesia, mempunyai sifat kolektif kolegial. Tanggung jawab yang bersifat kolektif. Saat keputusan Pemberian FPJP yang menjabat Gubernur Bank Indonesia adalah Boediono yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden. Miranda S Gultom sebagai Deputy Gubernur Senior," ujar Misbakhun di Jakarta, Jumat (15/11).

Mantan Politikus PKS ini berpandangan, dengan ditetapkannya Budi Mulya, maka dengan melihat sifat kolektif kolegalial tersebut. Peluang Miranda S Gultom untuk ditetapkan lagi sebagai tersangka oleh KPK menjadi terbuka, sebelum arah penetapan tersangka tersebut menuju Boediono.

Oleh sebab itu, dia meminta kepada DPR untuk mengambil langkah persiapan untuk melakukan penggulingan terhadap Wapres Boediono jika pada saatnya nanti, Boediono akan ditetapkan pula sebagai tersangka oleh KPK.

"DPR harus segera mempersiapkan sebuah langkah konstitusional untuk melakukan impeachment terhadap Wakil presiden Boediono, guliran langkah penangkapan oleh KPK tersebut harus diantisipasi sejak awal secara ketatanegaraan oleh DPR. Sehingga sebuah sidang istimewa MPR pemberhentian Wakil presiden harus dilakukan," tegas dia.

Selain itu, Misbakhun juga merasa yakin jika dalam kasus ini juga akan melibatkan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang pada saat itu menjabat sebagai KSSK. KSSK bertugas sebagai lembaga yang berhak menentukan sebuah Bank gagal berdampak sistemik sehingga harus dilakukan penyelamatan dengan menggunakan Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) yang dicairkan oleh BI.

"Penetapan Budi Mulya yang dikaitkan dengan penetapan Bank Century sebagai Bank Gagal Berdampak Sistemik, tentunya akan mengarah pada Ketua KSSK saat itu, yaitu Sri Mulyani Indrawati dan sekretaris KSSK yaitu Raden Pardede," pungkasnya.

Sumber : MERDEKA

Kenapa bailout Century bengkak Rp 6,7 T, ini penjelasan Boediono

Kenapa bailout Century bengkak Rp 6,7 T, ini penjelasan Boediono

Wakil Presiden (Wapres) Boediono tak merasa bersalah dengan kebijakannya memberikan bailout kepada Bank Century saat dirinya menjabat sebagai gubernur Bank Indonesia (BI). Menurut dia, data tentang membengkaknya dana talangan dari Rp 632 miliar sampai Rp 6,7 triliun bukan tanggung jawab BI.

Boediono menjelaskan, soal dana talangan yang semula Rp 632 miliar menjadi Rp 6,7 triliun itu seluruhnya berada pada kewenangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan pengawas bank. Sebab, BI dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) hanya bertanggung jawab sampai kepada penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik sehingga harus diberikan bailout.

"Jadi prosesnya setelah diambil alih oleh LPS dan mandat diserahkan oleh KSSK itu adalah bahwa ini menjadi bank, ini menjadi bank milik LPS dan pengawasnya terhadap pemilik bank, dan kalau ada, harus diselesaikan dengan mereka. Itu data-datanya ada di situ," ujar Boediono saat jumpa pers di Kompleks Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (23/11).

Boediono kemudian mencoba menjelaskan secara detail, bagaimana proses menentukan Bank Century menjadi bank gagal berdampak sistemik. Sehingga jika tidak diselamatkan, ekonomi nasional bakal terguncang di era krisis global tahun 2008 silam.

"Itu kalau tidak salah yang diputuskan tanggal 20 November itu hari yang panjang. Saya masih ingat 20 November siang menjelang sore ada undangan rapat saya di kantor Wapres. Ternyata di situ ada rapat besar, saya, Menkeu dan pejabat-pejabat lain juga hadir. Dan pada pertemuan itu saya menyampaikan kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia. Saya sampaikan kurs yang melonjak, saya sampaikan pasar uang antar bank yang macet. Saya sampaikan likuiditas yang mulai kering bagi bank-bank di Indonesia. Saya ceritakan mengenai Capital Outflow, ini adalah indikator terhadap krisis," kata dia.

Karena itu ia merasa tidak bertanggung jawab dengan pencairan dana Century dari Rp 632 miliar menjadi Rp 6,7 triliun. Sebab, kata dia, hal itu menjadi kewenangan LPS dan pengawas bank yang menghitung nominal penyelamatan Bank Century.

"Perhitungan validasi yang digunakan untuk menyelamatkan bank ini setelah bank ini diambil alih oleh LPS setelah tanggal 21 November dan diputuskan oleh KSSK, dan di situlah ada perubahan (nominal bailout) yang mengawal. Pengawalnya adalah LPS yang mengawalnya, dan yang mengawasinya dari Bank Indonesia. Dan kalau ada likuiditas, kalau ada krisis harus cepat-cepat diambil, ada kekurangan modalnya, caranya itu semua dihitung bersama-sama jadi seperti juga bank-bank lain. Jadi saya tidak menangani hal itu," ujarnya.

Seperti diketahui, terjadi polemik dan saling tuding saat dana kucuran BI ke Bank Century mencapai Rp 6,7 triliun. Ketua KSSK Sri Mulyani pun merasa dibohongi dengan nominal bombastis tersebut.

Forum Rapat Pansus DPR untuk Hak Angket Bank Century, awal Januari 2010, Sri Mulyani menegaskan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas keputusan penyelamatan Bank Century. Berdasarkan data awal, nilai bailout dari Bank Indonesia sebesar Rp 632 miliar. Angka Rp 632 miliar itu ditetapkan BI sebagai acuan menangani Bank Century.

Selain itu, Sri Mulyani mengaku merasa tertipu dengan data yang diberikan BI dalam keputusan bailout Bank Century. Hal ini dituturkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di forum rapat Pansus Bank Century, 14 Februari 2010.

Saat itu, Kalla merinci, Sri Mulyani menemuinya di kediaman resmi wakil presiden pada 30 September 2009. Dalam pertemuan empat mata itu Ketua KSSK mengaku tertipu dengan pembengkakan nilai penyelamatan Bank Century. Awalnya Bank Indonesia merekomendasikan dana talangan Bank Century hanya Rp 632 miliar. Ternyata, nilai bailout membengkak menjadi Rp 6,7 triliun. 

Sumber : MERDEKA

Century & cerita Rizal Ramli soal peran hingga ketakutan Boediono ditangkap Antasari

Century & cerita Rizal Ramli soal peran hingga ketakutan Boediono ditangkap Antasari

Mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid (GusDur) Rizal Ramli menanggapi hasil putusan Praperadilan kasus Bank Century di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menurutnya, dalam sidang, jawaban mantan Menteri Keuangan Boediono masih muter-muter.

Sebenarnya, kata dia, masalahnya sederhana. Kata dia, Century tidak pantas untuk di-bailout karena bank ini dari dulu sudah bermasalah.

"Bank ini bank kecil, kalau ditutup juga dampaknya nyaris tidak ada apa-apa. Karena argumen sistemik ini argumen yang sangat menyesatkan. Karena, saya pernah sebagai Menko menyelamatkan bank BII yang 6 sampai 7 kali lebih besar dari bank century dan itu kita lakukan tanpa bailout sama sekali," tegas Rizal Ramli, Rabu (11/4)

"Caranya bank mandiri dibuat ambil over supaya ada umbrella of confiden ganti manajemen dan take over sementara dan membuat uang kembali ke dalam sistem bank BII pada waktu itu jauh lebih besat dari pada bank Century. Sebenarnya Century masalah yang sangat sederhana karena itikadnya adalah hanya mencari ember bocor," imbuh mantan Menko Maritim itu.

Dua tahun lalu, Rizal mengaku berkunjung ke penjara mantan ketua KPK Antasari Azhar. Dia bercerita, suatu hari Boediono datang sebagai Gubernur Indonesia meminta izin bailout untuk bank Indover di negeri Belanda sebesar Rp 5 triliun. Antasari, kata dia, ditakut-takuti Boediono kalau tidak dilakukan maka kepercayaan terhadap Indonesia rusak, rupiah anjlok dan investor bisa enggak percaya.

Namun, sambung Rizal Ramli, Boediono tidak tahu kalau Antasari adalah asisten Jaksa Agung Marzuki Darusman sebelum menjadi ketua KPK.

"Pada saat saya jadi Menko kita utus dia ke Belanda dan diberitahu oleh bank central Belanda enggak usah khawatir kalau terjadi sesuatu akan dijamin oleh bank central Belanda dan tidak menimbulkan apa-apa," katanya.

"Begitu Pak Boediono meminta izin ini, Antasari mengatakan, bapak lakukan bailout bank indover Rp 5 triliun, sorenya bapak saya tangkap. Jadi Boediono ketakutan," Kata Rizal Ramli menirukan ucapan Antasari pada waktu itu.

Selang beberapa waktu kemudian, sambung Rizal, dicari ember kosong lain yaitu bank Century. Sebetulnya kebutuhan dananya hanya kebutuhan dana pihak ketiga sebesar Rp 2 trilun namun entah kenapa bisa dibailout sampai Rp 6,7 triliun. "Pasti ada yang bocor," tuturnya.

Selanjutnya, Rizal menilai, dari situ sudah sangat jelas bahwa ini ada upaya untuk membobol bank. "Karena itu saya minta pak boediono ksatrialah kasihan anak buah harus masuk penjara dan ditangkap. Mengaku sajalah jadi ksatria karena tanggung jawab itu ada di tangan pemimpin," imbaunya.

Selain itu, kata dia, terkait pernyataan Istana pada waktu itu yang mengatakan tidak ada yang lebih penting dari kesaksian seorang Wakil Presiden di depan sidang akan menyingkirkan sejumlah keraguan. Keraguan itu menuntun pada pandangan bahwa bailout Century menyembunyikan niat buruk dari para pengambil keputusannya.

"Jangan lupa bank Century ini suda rusak lama sudah busuk lama dan enggak ada hubungannya dengan krisis. Bahkan kalau ditutup saja tidak ada efeknya sama sekali," katanya.

"Bank Century sengaja mau dipakai sebagai ember kosong," kata Rizal menegaskan kembali.

Selanjutnya, Rizal menjelaskan, pada waktu ketua KPK Antasari meminta BPK untuk melakukan audit. Menurut Rizal, Ketua BPK pada waktu Hadi Purnomo dan wakil Taufiq Ruki merupakan teman dekat Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Salah satu permintaan Ruki, kata dia, adalah supaya jangan menyentuh NKRI. Hadi Purnomo kemungkinan banyak masalah sepakat hanya untuk melakukan polesi audit atau audit kebijakan.

"Kalau sudah audit kebijakan Pak Boediono dan Sri Mulyani pasti kena dan yang sengaja tidak dilakukan oleh BPK adalah audit aliran dana. padahal kalau ikut kasus Bank Bali diaudit aliran dana dalam waktu 6 minggu akan ketahuan uang itu kemana," bebernya.

"Kok bisa butuhnya hanya Rp 2 triliun dana pihak ketiga disuntik jadi Rp 6,7 triliun dan itu berlangsung selama 8 bulan sampai tahun 2009," katanya.

"Di seluruh dunia selamatkan bank cuma 1 hari atau 2 hari saja ditransfer dana bailout pihak ketiga selesai. Tidak ada di seluruh dunia uang itu ditarik secara bertahap sampai 8 bulan," imbuhnya.

Rizal pun memohon pihak Istana kalau audit yang betul karena akan jelas dana itu buat keperluan politik.

Sebelumnya, Boediono tak merasa bersalah dengan kebijakannya memberikan bailout kepada Bank Century saat dirinya menjabat sebagai gubernur Bank Indonesia (BI). Menurut dia, data tentang membengkaknya dana talangan dari Rp 632 miliar sampai Rp 6,7 triliun bukan tanggung jawab BI.

Sumber : MERDEKA

Interested for our works and services?
Get more of our update !