Showing posts with label Jaman Doeloe. Show all posts
Showing posts with label Jaman Doeloe. Show all posts

Fakta di balik kematian Lincoln dan Kennedy

Fakta di balik kematian Lincoln dan Kennedy

Dua kematian paling tragis dan dramatik dalam sejarah Amerika Serikat, pembunuhan Presiden Abraham Lincoln dan John Fitzgerald Kennedy, meliputi kesamaan mencengangkan berikut ini.

1. Lincoln dipilih sebagai presiden di tahun 1860. tepat seratus tahun kemudian, di tahun 1960, Kennedy dipilih sebagai presiden.

2. Keduanya amat terlibat dalam hak-hak sipil untuk orang Negro.

3. Keduanya dibunuh pada hari Jumat, di samping istri masing-masing.

4. Masing-masing istri kehilangan seorang anak laki-laki ketika tinggal di Gedung Putih.

5. Keduanya dibunuh dengan sebutir peluru yang masuk ke dalam kepala dari belakang.

6. Lincoln dibunuh di Ford’s Theater. Kennedy meninggal ketika mengendarai mobil Lincoln dengan kap terbuka buatan Ford Motor Company.

7. Keduanya digantikan oleh wakil presiden bernama Johnson anggota partai demokrat dari selatan dan mantan senator.

8. Andrew Johnson lahir tahun 1808. Lyndon Johnson lahir tahun 1908, tepat seratus tahun kemudian.

9. Nama depan sekretaris pribadi Lincoln adalah John, nama belakang sekretaris pribadi Kennedy adalah Lincoln.

10. John Wilkes Booth lahir tahun 1839[menuru t beberapa sumber]. Lee Harvey Oswald lahir tahun 1939, seratus tahun kemudian.

11. Kedua pembunuh berasal dari dari wilayah selatan yang mempunyai pandangan ekstremis.

12. Kedua pembunuh dibunuh sebelum mereka dapat dibawa ke pengadilan.

13. Booth menembak Lincoln dalam theater dan melarikan diri ke dalam gudang. Oswald menembak Kennedy dari gudang dan melarikan diri ke theater

14. LINCOLN dan KENNEDY masing-masing terdiri dari tujuh huruf.

15. ANDREW JOHNSON dan LYNDON JOHNSON masing-ma sing terdiri dari 13 huruf.

16. JOHN WILKES BOOTH dan LEE HARVEY OSWALD masing-masing terdiri dari 15 huruf.

Bob Freeberg, Pilot Amerika yang berkorban demi kemerdekaan RI

Bob Freeberg, Pilot Amerika yang berkorban demi kemerdekaan RI
Bob Freeberg, Pilot Amerika yang berkorban demi kemerdekaan RI

Banyak orang berpikiran negatif terhadap Amerika Serikat. Negara Paman Sam itu memang beberapa kali membuat tanah air carut marut. Tapi tahukah kamu, ada seorang pilot berkebangsaan Amerika yang baik hati membantu kemerdekaan Indonesia.

Dia adalah Bob Earl Freeberg, seorang pilot asal Kansas, Amerika Serikat. Saat Perang Dunia II berkecamuk, Bob mengabdi sebagai pilot perang Angkatan Laut AS. Setelah PD II berhenti, Bob lebih memilih untuk tinggal di Filipina dan bekerja di maskapai komersil CALI.

Bob pertama kali terbang ke Indonesia di tahun 1947. Kala itu ia menerbangkan pesawat menuju Yogyakarta. Bersama Petit Muharto Kartodirdjo sebagai ko-pilotnya, mereka dengan gagah berani terbang menembus blokade udara Belanda. Mereka telah melakukan banyak misi penerbangan dalam rangka membela kemerdekaan yang telah diproklamirkan namun kemudian terancam dengan kedatangan Belanda untuk kembali melakukan pendudukan

Misi pertamanya adalah mengirim 29 peti bubuk kina dan 11 peti biji vanila dari Filipina untuk Indonesia. Pesawat miliknya teregistrasi dengan nama RI-002 demi mengelabui Belanda.

Di misi pertamanya ini, penerbangan Bob sempat ditentang pemerintahan Belanda lantaran urusan legalitas serta adanya kru orang Jawa. Beruntung pihak Filipina berhasil mengendalikannya.

Selain itu, Bob juga membantu menerbangkan pasukan penerjun Indonesia ke pulau Kalimantan untuk berjuang melawan NICA. Ia juga menerbangkan delegasi Indonesia ke konferensi UN ECAFE (United Nations Economic Commission for Asia and the Far East) di Filipina.

Setelah beberapa kali menjalankan misi untuk Indonesia, Bob megngalami kecelakaan fatal hingga nyawanya melayang saat akan memberikan uang kepada pejuang di Sumatera. “Dia mengalami kecelakaan ketika aku mengirimnya ke Palembang membawa uang untuk membantu gerilya di Sumatra,” kenang Soekarno dalam buku biografinya

Sumber : http://historia.id

Gigi adolf Hitler bongkar Konspirasi Kematian Sang Fuhrer

Gigi adolf Hitler bongkar Konspirasi Kematian Sang Fuhrer

Konspirasi seputar kematian sang Fuhrer Adolf Hitler sampai kini masih banyak orang yang belum percaya kalau Hitler benar-benar mati di dalam Bunkernya di Berlin. Berbagai teori konspirasi lahir mengatakan kalau sang Fuhrer berhasil menyelamatkan diri dari kepungan tentara merah soviet.

Kemudian mitos berkembang tentang pelarian diri Adolf Hitler ke Argentina, persembunyian di pangkalan Antartika sampai cerita pemimpin Nazi itu hidup dan tinggal sampai akhir hayatnya di Indonesia dengan merubah identitas sebagai dr Poch.

Dengan pemeriksaan gigi Hitler akan dapat dipastikan apakah yang sebenarnya terjadi menjelang kematian Hitler. Kondisi gigi pemimpin NAZI Jerman Adolf Hitler sangat buruk. Hal itu memudahkan tim Soviet mengidentifikasi mayat hangus Hitler yang ditemukan di puing-puing pusat komandonya di Berlin, awal Mei 1945.

Sebuah tim patolog Perancis baru-baru ini diizinkan untuk memeriksa set gigi yang disimpan di Moskow itu. Inilah untuk pertama kalinya Rusia mengizinkan pemeriksaan terhadap barang-barang bukti itu, lebih 70 tahun setelah Perang Dunia II berakhir. Hasil penelitian tim Perancis diterbitkan akhir pekan lalu di European Journal of Internal Medicine.

Giginya asli kepunyaan Hitler, kami memastikan tidak ada keraguan, benar-benar akurat,’ kata ahli patologi Philippe Charlier kepada kantor berita Perancis AFP. ‘Kemudian Studi kami juga membuktikan bahwa Hitler meninggal pada tahun 1945.

Ini bisa dibuktikan pada set gigi Hitler tidak menunjukkan jejak daging, suatu hal yang membuktikan bahwa Hitler memang vegetarian. Tim peneliti juga diizinkan melihat potongan tengkorak Hitler untuk mengkonfirmasi bagaimana cara dia melakukan bunuh diri.

Temuan baru ini mungkin tetap tidak akan mengakhiri kisah-kisah yang bertebaran sampai ke Indonesia, bahwa Adolf Hitler berhasil lolos dari Berlin dan tidak melakukan bunuh diri tahun 1945.

Sumber : kejadiananeh.com

Cerita Presiden Soekarno Pernah Ditembak Saat Salat, Pelaku Melihat Keanehan Ini Sehingga Gagal

Cerita Presiden Soekarno Pernah Ditembak Saat Salat, Pelaku Melihat Keanehan Ini Sehingga Gagal

Sejarah mencatat, pada 14 Mei 1962 lapangan Istana Merdeka dibuka untuk umum guna pelaksanaan ibadah Salat Iduladha. Sehingga Istana Negara menjadi pusat perhatian banyak warga saat itu.

Presiden Soekarno hadir bersama umat muslim yang memenuhi istana dan ikut salat bersama mereka. Semua terlihat normal dengan penjagaan yang ketat.

Salat pun dimulai, namun saat rukuk, tiba-tiba teriakan takbir seorang pria terdengar, disusul suara tembakan.

Pria tak dikenal itu keluar dari barisan pertama dan mengarahkan pistolnya ke Soekarno. Peluru pertama meleset, mengenai Ketua DPR kala itu, Zainul Arifin.

Peluru kedua ditembakkan dan tetap meleset. Pelaku adalah seorang kiai yang memimpin pemberontak DI/TII, Moh Bachrum. Namun ada juga cerita yang mengatakan pelaku bukan Bachrum, namun orang suruhannya.

Melihat Dua Bayangan Soekarno

Dalam cerita lain mengatakan yang terkena tembak adalah dua polisi, Amoen dan Susilo. Mereka bersama beberapa polisi lain serempak bertubrukan menutupi tubuh Sukarno. Amoen tertembak di dada, sedang Susilo terserempet peluru di bagian kepala.

Meski terkena tembakan, keduanya selamat. Sukarno segera dievakuasi dan pelaku diciduk pasukan keamanan.

Mangil Martowidjojo, Komandan Kawal Pribadi Soekarno kala itu sudah mendapat informasi dari Kapten Dahlan, Komandan Pengawal Istana, terkait percobaan pembunuhan oleh kelompok Darul Islam sehari sebelumnya.

Mendengar peringatan ini ia mengecek kegiatan Bung Karno sepekan ke depan. Dan didapati, momen Salat Idul Adha tersebut adalah yang paling longgar pengamanannya. Karena pintu Istana Merdeka dibuka untuk umum.

Disebutkan, Mangil menyamar mengenakan sarung dan kopiah, ditemani wakilnya, Soedarso berdiri enam langkah di depan Sukarno saat pelaksanaan salat.

Setelah terlihat gerakan mencurigakan si penembak, Mangil langsung menyeret Soekarno dari lokasi dalam keadaan menunduk.

Diikuti Soedarso yang siaga menarik pistol sambil berjalan mundur. Setelah diinvestigasi, pelaku melihat dua bayangan Soekarno sehingga tembakannya meleset. Akibatnya pelaku dijatuhi hukuman mati. Namun ketika diajukan, Soekarno menolak menandatangani surat hukuman itu.

“Aku tidak sampai hati memerintahkan dia dieksekusi,” kata Soekarno.

Peristiwa ini jadi perhatian khusus Menteri Pertahanan dan Keamanan, Jendral Abdul Haris Nasution. Ia menyarankan Soekarno membentuk resimen khusus menjaga dirinya dan keluarganya. Dalam tim ini harus ada prajurit-prajurit terbaik dari empat angkatan: AD, AURI, AL, dan Polri.

Permintaan ini pun disetujui Presiden Soekarno yang mengeluarkan surat keputusan pembentukan resimen kawal bernama Tjakrabirawa pada 6 Juni 1962, bertepatan dengan ulang tahunnya.


Kisah Presiden Soekarno paksa Rusia cari makam Imam Bukhori


Kementerian Luar Negeri Rusia menerbitkan saran bepergian (travel warning) bagi warganya yang berencana mengunjungi Indonesia. Peringatan Moskow ini didasarkan pada meningkatnya risiko terorisme di Tanah Air.

Hubungan Indonesia dan Rusia kadang memang naik turun. Dulu pernah jadi sahabat dekat, lalu jauh. 

Ada cerita unik soal Presiden Soekarno, Rusia dan para pemimpin Kremlin. Banyak sumber yang mengatakan, Soekarno lah yang menemukan makam perawi hadis terkenal Imam Bukhari. 

Ceritanya, sekitar tahun 1961, pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev mengundang Soekarno datang ke Moskow. Nikita ingin memperlihatkan pada Amerika Serikat kalau Indonesia berada di belakang Blok Timur. Saat itu dunia memang sedang memanas antara persaingan negara Blok Barat, AS dan sekutunya, melawan Uni Soviet.

Soekarno menghadapi dilema. Dia tidak ingin menunjukkan kalau Indonesia bisa diatur Soviet. Maka Soekarno membuat strategi.

"Tuan Khrushchev, saya bersedia datang ke Moscow. Tapi ada syaratnya, temukan makam Imam Bukhari, perawi hadis terkenal. Dia dimakamkan di Samarkand, Uzbekistan," ujar Soekarno.

Tentu saja Khrushchev yang komunis tulen bingung. Siapa Imam Bukhari? Pikirnya. Khrushchev pun meminta Soekarno mengganti syaratnya, tapi Soekarno menolak.

Maka pemerintah komunis Uni Soviet mati-matian mencari makam ulama besar Islam ini. Bukan perkara mudah, Khrushchev pun hampir menyerah. Dia lagi-lagi menawar syarat dari Soekarno. Tapi Soekarno bersikeras Soviet harus menemukan makam Imam Bukhari.

Akhirnya, mereka berhasil menemukan lokasi makam Imam Bukhari. Saat itu kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak terawat untuk ukuran seorang ulama besar. Khrushchev pun dengan gembira menyampaikan hal itu pada Soekarno. Tak lupa, pihak Soviet merenovasi makam itu sedikit agar tak berantakan.

Maka akhirnya Soekarno mengunjungi Moskow. Tak lupa dia berziarah ke tempat Imam yang sangat dikaguminya ini di Samarkand.

Saat itu pihak Barat pun menilai kunjungan Soekarno ke Moskow tak cuma untuk urusan politik, melainkan ziarah. Ini juga menunjukkan Indonesia tak bisa diatur.

Namun sejarawan Asvi Warman Adam meragukan kebenaran soal Soekarno dan penemuan Makam Imam Bukhari ini. Sebabnya tidak ada literasi resmi soal peristiwa ini. Soekarno pun tak menceritakan hal ini dalam biografi dirinya yang ditulis Cindy Adams.

"Kadang memang ada cerita Soekarno yang dibesar-besarkan. Untuk cerita itu tidak jelas kenapa Soekarno mengemukakan alasan tersebut pada Uni Soviet," beber Asvi saat dihubungi merdeka.com.

Versi lain yang berkembang di Uzbekistan menyebutkan, berkat Soekarno makam Imam Bukhari dipugar besar-besaran. Dulunya, makam itu tidak terlihat kemegahannya. Tetapi, jelang ziarah Soekarno, makam dibersihkan dan direnovasi hingga tampak megah. 

Imam Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan tahun 196 Hijriah atau 810 Masehi. Beliau diberi nama Muhammad oleh ayahnya yang bernama Ismail bin Ibrahim. Tapi akhirnya lebih dikenal sebagai Imam Bukhari, dari nama kota Bukhara.

Selama hidupnya, Imam Bukhari menghimpun sejuta hadis dari Rasulullah SAW. Dia menyaring dan mempelajari hadis-hadis tersebut untuk menentukan mana hadis yang kuat, atau lemah.

Akhirnya Imam Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Beda dengan Sukma, Ini Puisi Sukarno tentang Indonesia

Beda dengan Sukma, Ini Puisi Sukarno tentang Indonesia

Presiden Sukarno tak cuma dikenal jago berorasi. Dia juga pencinta seni sekaligus pernah membuat kreasi seni. Sukarno gemar menonton wayang kulit, mengoleksi lukisan, bermain sandiwara dan menulis naskahnya, serta pernah membuat puisi. Salah satu naskah puisinya yang terkenal berjudul 
'Aku Melihat Indonesia'.

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
"Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!"
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

Putri pertamanya, Megawati Soekarnoputri, pernah membacakan puisi tersebut saat membuka Kongres IV PDI Perjuangan di Bali, 9 April 2015. Ribuan peserta Kongres PDIP pun dengan khidmat menyimak pidato ketua umum partai tersebut. 

Melalui puisi 'Aku Melihat Indonesia', Megawati mengajak peserta kongres kembali merenung tentang Indonesia dalam satu kesemestaan. "Aku melihat Indonesia adalah cara pandang bersama untuk kembali pada cita-cita kedaulatan bangsa," kata Mega kala itu.

Darah seni Sukarno disebut mengalir dari sang Ibu, Nyoman Rai Srimben. Anak-anak Sukarno dari Fatmawati sebagian mewarisi bakat seni Bung Karno. Si sulung, Guntur, pernah punya grup musik waktu kuliah di ITB, Megawati suka menari, dan Guruh berkiprah di musik serta tari.

Meski tak banyak mendapatkan publisitas seperti halnya Guruh, Diah Mutiara Sukmawati juga ikut mewarisi Sukarno dalam hal mencintai kesenian. Dia menari, melukis, dan menulis. Konon, dia bisa betah berlama-lama nongkrong di Taman Ismail Marzuki, berkumpul dengan rekan sesama seniman.

Pada 2011, Sukmawati menulis buku 'Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto'. Tapi dia baru menuai kontroversi saat membacakan puisi berjudul 'Ibu Indonesia' lantaran dinilai sejumlah pihak menyinggung pemeluk agama Islam.

Sumber : Detik


Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) Ibu Indonesia, sejak tempo doeloe

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) Ibu Indonesia, sejak tempo doeloe

Sejak dulu menggunakan jilbab dan mendirikan Aisyiyah organisasi perempuan pertama di Indonesia

Hari ini ribuan sekolah dan rumah sakit Aisyiyah telah berdiri sebagai bukti pengabdian kepada agama dan bangsanya.

Dalam kiprah hidupnya, perjuangan Nyai Ahmad Dahlan adalah melawan kebodohan dan diskriminasi. Bersama suaminya, K.H. Ahmad Dahlan, ia mendirikan 'Aisyiyah, organisasi yang memiliki perhatian khusus dalam agama, pendidikan, layanan kesehatan, dan sosial. 

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” 

Petikan Surat An-Nahl ayat 93 itu menjadi semangat pemikiran Kyai Haji Ahmad Dahlan dan istrinya dalam mendirikan 'Aisyiyah. Ayat itu mengingatkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki tugas yang sama dalam menyebarkan agama, dan yang terpenting, baik laki-laki maupun perempuan, akan ditanya apa saja yang telah dilakoninya di dunia. 

Kesadaran inilah yang memunculkan pemikiran untuk menghimpun para perempuan dalam satu wadah organisasi, sehingga mereka bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat. (Widiyastuti, Kenangan Keluarga Terhadap KHA Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, 2010: 4). 

Perempuan yang lahir dengan nama Siti Walidah ini meresmikan 'Aisyiyah bersama suaminya pada 19 Mei 1917, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1335 tahun Hijriah. 

Nyai Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Muhammad Fadhil Kamaludiningrat, kiai penghulu di Keraton Yogyakarta, yang kemudian menekuni profesi sebagai saudagar batik. 

Layaknya perempuan di masa itu, Walidah kecil tak sempat mengenyam pendidikan formal. Namun, ia tak tinggal diam. Walidah memiliki kemauan besar untuk belajar dan mengajar yang terjembatani lewat pernikahannya dengan Muhammad Darwis, nama kecil Ahmad Dahlan, pada 1889. 

Meski sebenarnya pernikahan itu adalah pernikahan keluarga—Ahmad Dahlan adalah saudara sepupu Walidah—pertemuan keduanya bagaikan peribahasa tumbu oleh tutup, cocok dan saling melengkapi. Pasangan muda ini saling mendukung untuk mewujudkan mimpi masing-masing. 

Siti Walidah mendukung suaminya untuk mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah. Kepedulian Dahlan terhadap perempuan dan kesetaraan jender pun mendukung Walidah dalam berkiprah lewat 'Aisyiyah. 

Sejak suaminya mendirikan Muhammadiyah pada 1912, Walidah berperan menggerakkan pengajian, mengorganisasi kaum perempuan di Kauman, Karangkajen, dan Pakualaman, dari remaja putri, ibu-ibu, hingga para buruh batik. 

Dalam sejarah 'Aisyiyah yang dimuat Suara Aisyiyah, Siti Walidah merintis gerakan ini dengan mengajar kaum perempuan Kauman untuk membaca Alquran, terutama sekali mengamalkan pesan dalam Surat Al-Ma'un, yang mengajarkan kepekaan muridnya atas kemiskinan di kalangan umat Islam. 

Kelompok pengajian ini terbagi dua: kelompok remaja putri bernama Wal Ashri atau pengajian setelah Asar, dan kelompok Maghribi School yang digelar selepas waktu kerja untuk para buruh batik. Pada 1914, perkumpulan ini diberi nama Sopo Tresno, embrio 'Aisyiyah. Nama Aisyiyah diambil dari nama istri Nabi Muhammad. 

Semakin hari, kiprah 'Aisyiyah berkembang di bawah pembinaan Nyai Ahmad Dahlan. Meski menjadi orang yang merintis perkumpulan ini, tetapi Walidah tidak ditetapkan sebagai pemimpin pertama 'Aisyiyah. 

Saat rapat Hoofdbestuur atau pimpinan pusat Muhammadiyah pada 1917, Siti Bariyah yang ditetapkan sebagai pemimpin 'Aisyiyah. Bariyah adalah salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan yang lulus dari Neutraal Meisjes School. 

Nyai Ahmad Dahlan, karena tak menempuh pendidikan formal, dianggap kurang memiliki pemikiran modern dan pengetahuan seputar manajemen organisasi. Saat itu Walidah baru menguasai bahasa Melayu dan kemampuan menulis huruf latin. 

Melalui peristiwa itu, tampaknya K.H. Ahmad Dahlan tak ingin ada nepotisme dalam struktur kepemimpinan, baik dalam Muhammadiyah maupun 'Aisyiyah. Ia menghendaki organisasi 'Aisyiyah dibangun dan dikelola secara modern dan profesional.

Lewat 'Aisyiyah, Nyai Dahlan mendorong perempuan untuk melakukan aktivitas di luar rumah, sekolah, dan berkegiatan seperti laki-laki, termasuk bekerja. 

Siti Ruhaini Dzuhayatin, penulis Rezim Gender Muhammadiyah (2015), mengungkapkan bahwa Ahmad Dahlan bahkan mengajarkan anak-anak perempuan memakai sarung dan naik sepeda. Meski hal macam itu terlihat sederhana, tetapi dalam konteks masa itu, apa yang dilakukan Kyai Dahlan sangatlah progresif demi mendorong perempuan berkiprah di luar rumah.

Di tengah perjuangannya memuliakan perempuan, Nyai Ahmad Dahlan mendapat ujian kesetiaan. Suaminya melakukan praktik poligami, dengan alasan dakwah. K.H. Ahmad Dahlan menikahi tiga perempuan: Ray Soetidjah Windyaningrum atau Nyai Abdullah dari internal Keraton, Nyai Rum (putri tokoh pesantren Krapyak), dan Nyai Aisyah (putri penghulu bangsawan Cianjur). 

K.H. Ahmad Dahlan menikahi mereka dengan alasan tertentu. Nyai Abdullah adalah janda muda berumur 16 tahun yang diserahkan Keraton Yogyakarta untuk Dahlan. Sebagai abdi dalem, Dahlan manut atas tawaran itu. Pernikahan dengan Nyai Rum berlangsung dalam motif "dakwah". Sementara dengan Nyai Aisyah, yang berusia 15 tahun, sang mertua menginginkan ada "keturunan Dahlan" di Cianjur.

Dahlan memahami bahwa praktik poligami yang dilakoninya menyakiti Nyai Walidah. Untuk menjaga perasaan istrinya, Dahlan tak menempatkan istri-istrinya dalam satu kampung, apalagi satu rumah. Nyai Abdullah menetap di Namburan, Nyai Rum tinggal di Krapyak, dan Nyai Aisyah di Cianjur.

Kendati demikian, kebesaran hati Nyai Ahmad Dahlan adalah telaga: ia dengan tulus dan ikhlas merawat anak tirinya dengan alasan ibu mereka masih dianggap terlalu muda. 

Dari perkawinan poligami, Dahlan dikaruniai dua anak, masing-masing dari Nyai Abdullah dan Nyai Aisyah. Cicit Ahmad Dahlan, Siti Hadiroh, mengutip dalam warta PWMU, mengatakan bahwa Nyai Dahlan sangat perhatian kepada anak tirinya, sampai-sampai anak-anak itu tak tahu kalau Nyai Dahlan bukan ibu kandung. 

Nyai Dahlan dikenal tegas dalam mendidik anak-anaknya, terutama soal beribadah. Pernah satu kali, salah satu anaknya, R. Dhuri yang memiliki minat di bidang musik, sedang asyik bermain biola hingga lupa salat. Nyai Dahlan menegur tetapi tak diindahkan. Tanpa kompromi, Nyai Dahlan mengambil biola dan membuangnya ke dalam tungku api. (Widiyastuti, Kenangan Keluarga Terhadap KHA Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, 2010: 14). 

Siti Hadiroh, dalam buku yang sama, bercerita bahwa ibunya, Siti Djuwariyah, pernah menerima pesan langsung dari Nyai Dahlan: “Sesungguhnya ada dua penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali oleh yang menderita penyakit sendiri. Kedua penyakit itu adalah kikir dan malas.” 

Teladan Nyai Dahlan tak sampai di situ. Ia memahami dan melakoni pesan terakhir suaminya. 

Ahmad Dahlan, sebelum meninggal dunia pada 1923, mengumpulkan istri, anak, dan cucu-cucunya. Kepada mereka, ia berpesan: “Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu. Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah." 

Dalam satu peristiwa, tatkala Nyai Dahlan dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, ia menolak tawaran dari pihak rumah sakit yang ingin menggratiskan biaya pengobatannya. Alasannya, Nyai Dahkan ingat pesan terakhir suaminya. 

Ia lantas pulang untuk mengambil uang dan membayar biaya rumah sakit. Namun, rupanya, uang yang terkumpul tak mencukupi tagihan rumah sakit. Nyai Dahlan pun menyuruh salah satu anaknya menjual lemari untuk menutupi kekurangan biaya pengobatan. 

Kisah itu dituturkan oleh Chayatul Khuriyah, cucu Ahmad Dahlan. 

Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 31 Mei 1946. Dua puluh lima tahun kemudian pemerintah memberikannya gelar sebagai pahlawan nasional. 

Kiprah Nyai Dahlan tentu bisa terlihat dari warisan organisasi 'Aisyiyah. Kini 'Aisyiyah menjadi salah satu organisasi perempuan muslim terbesar dengan mengusung program kerja yang tak pernah lepas dari akarnya: mengangkat derajat kaum perempuan agar bermanfaat untuk masyarakat umum.

Sumber : 
  • Website Sang Pencerah
  • Tirto.id

Pembantaian yang Dilakukan Belanda di Pedalaman Aceh

Pembantaian yang Dilakukan Belanda di Pedalaman Aceh

Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh siang itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda berukuran besar merapat, membawa ratusan orang yang diangkut dari tanah seberang. Tak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, serta ahli geologi dan tenaga medis berkebangsaan Eropa turut dalam rombongan tersebut.

Itu termasuk 473 orang mandor, puluhan kuli paksa, penunjuk jalan, serta 208 anggota Marsose alias Korps Marechaussee te Voet, satuan militer yang bernaung di bawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. 

Sebagian besar anggota Marsose berasal dari orang lokal. Mereka adalah para pemuda dari Jawa hingga Maluku untuk dijadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk menjalankan misi penting di Tanah Rencong. 

Hari itu, 8 Februari 1904, Belanda memulai operasi militer untuk mengakhiri Perang Aceh yang telah berlangsung selama tiga dekade sekaligus menangkap Cut Nyak Dien yang masih melakukan perlawanan dengan cara bergerilya. 

Yohannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Aceh. Maklum, van Heutsz pernah terlibat langsung dalam Perang Aceh, bahkan sempat menjadi gubernur di wilayah tersebut, tetapi selalu gagal.

Misi Penaklukan Total

Dari Banda Aceh, rombongan pimpinan Letnan Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen bertolak ke Lhokseumawe, tujuan akhir pelayaran. Berikutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang trem menuju Bireuen yang ditempuh dalam tempo 4 jam. 

Ratusan orang itu harus berjalan kaki dari Bireuen. Jalur satu-satunya untuk mencapai pedalaman Gayo memang hanya jalan darat dengan medan pegunungan yang sulit. Long march menuju Gayo dijalani dengan memakan waktu hingga 163 hari (Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 1999: 229).

Ekspedisi ke tanah Gayo dan Alas itu bermula dari laporan hasil riset Snouck Hurgronje bertajuk "Het Gajolan en Zijn Bewoners" atau “Tanah Gayo dan Penduduknya” kepada van Heutsz. Sang Gubernur Jenderal pun merespons dengan menunjuk van Daalen sebagai pemimpin operasi militer ke Aceh.

Dipilihnya van Daalen bukan tanpa alasan. Keluarga van Daalen sudah sangat berpengalaman di Aceh. Ayah Gotfried, van Daalen Sr., pernah menjabat kapten dalam Perang Aceh periode kedua (1874-1880), tapi gagal menyelesaikan misinya. Van Daalen muda pun menerima penunjukan tugas militernya sekaligus menuntaskan tugas bapaknya.

Belakangan, Hurgronje muak atas aksi van Daalen yang dinilai "melampaui batas" dalam ekspedisi ke Aceh pada 1904 itu. Namun, tidak demikian van Heutsz, yang bahkan menyebut van Daalen sebagai sosok yang “terkadang kasar dan keras, sangat ketat dan semena-mena dalam aksinya, tapi juga dapat melindungi dan memaafkan.”

Setelah melalui berbagai rintangan, dari kondisi medan yang sulit, kian menipisnya cadangan logistik, hingga serangan-serangan mendadak yang dilancarkan oleh kaum gerilyawan Aceh, rombongan van Daalen akhirnya sampai di tanah Gayo. Misi penaklukan total pun dimulai.

Aksi Pembantaian Massal

Sesaat setelah tiba, van Daalen langsung mengirimkan surat kepada raja-raja Gayo agar mereka segera menghadap. Van Daalen menghendaki para pemimpin rakyat itu menandatangani perjanjian takluk seperti yang telah dilakukan oleh banyak pemimpin rakyat di wilayah Aceh lain (Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh, 2014:280).

Respons para pemimpin Gayo ternyata di luar dugaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memenuhi undangan itu. Van Daalen yang murka kemudian menggerakkan pasukan untuk menyisir satu demi satu perkampungan di wilayah tersebut. Raja-raja dan pemuka masyarakat dipaksa datang. Jika tetap enggan, moncong senjata yang akan berbicara.

Rakyat Gayo bersikukuh menolak takluk dan memilih melawan. Orang-orang Gayo punya ciri khas dalam berperang atau mempertahankan diri. Semua penghuni desa tanpa kecuali berkumpul di benteng-benteng dari bambu dan semak berduri untuk menahan gempuran musuh.

Sebagian besar dari mereka memakai pakaian serba putih untuk menandakan bahwa inilah perang suci melawan kaum kaphe alias kafir. Meskipun dengan senjata seadanya ditambah munajat kepada Sang Pencipta, rakyat Gayo memilih lebih baik mati di jalan Tuhan ketimbang menjadi tawanan.

Van Daalen tidak menerapkan taktik khusus. Ia hanya memerintahkan agar seluruh musuh dibasmi tanpa ampun. Deli Courant (1940) menyebutkan, dalam suatu penaklukan di salah satu desa di Gayo, ratusan warga dibantai. Korban tewas terdiri 313 pria, 189 wanita, dan 59 anak-anak. 

Tak hanya di Gayo, aksi pembantaian ini berlanjut ke wilayah Suku Alas di Aceh Tenggara. Salah satu insiden itu terjadi pada 14 Juni 1904 di Kuta Reh. 

Menurut Asnawi Ali, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka, ada 2.922 orang tewas dalam tragedi itu: 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan, termasuk anak-anak dan orang tua.

Fakta yang mengejutkan telah diungkap oleh ajudan van Daalen, J.C.J. Kempees. Dalam laporan berjudul "De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden" (1904), Kempees menyebut ekspedisi militer Belanda di pedalaman Aceh itu setidaknya menelan korban nyawa hingga 4.000 orang.

Masih dalam laporannya, Kempees menyertakan foto-foto yang menjadi bukti telah terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang dari Suku Gayo maupun Alas. Setiap kali usai penyerbuan, van Daalen memerintahkan ajudannya untuk memotret tumpukan-tumpukan mayat dengan para Marsose yang berpose di sekitarnya (Dien Madjid, 2014: 282). 

Ekspedisi militer Belanda ke pedalaman Aceh yang berlanjut hingga ke tanah Karo di Sumatera Utara itu boleh dibilang menjadi babak akhir Perang Aceh. Dalam rangkaian aksi tersebut, Cut Nyak Dhien akhirnya tertangkap dan kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga wafat.

Meskipun Cut Nyak Dien sebagai pimpinan terakhir telah ditangkap, tetapi para pejuang dan rakyat Aceh terus melakukan perlawanan terhadap Belanda kendati dalam skala lebih kecil. Itu berlangsung bahkan hingga Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942.

Berbeda dari kasus Westerling dan sejumlah luka sejarah lain, hingga saat ini pihak Belanda belum meminta maaf secara resmi terkait pembantaian di pedalaman Serambi Mekkah yang berlangsung selama tiga bulan pada 1904 tersebut.

Sumber : TIRTO

Interested for our works and services?
Get more of our update !