Prabowo dan Kegagalannya "Nyapres"

Prabowo dan Kegagalannya "Nyapres"

Hasrat Ketua Dewan Pembina Parta Gerindra, Prabowo Subianto, untuk menjadi presiden sudah terpendam lama. Dua kali berjuang, Prabowo gagal. Ia belum menyerah. 

"Saya ikut tiga kali pemilu. Yang pertama naif, kedua agak naif, dan sekarang masih seminaif," kata Prabowo saat menjadi pembicara dalam acara Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB-PII) di Jakarta, Sabtu (1/3/2014) malam. Acara tersebut dihadiri juga oleh Ketua Umum PKB-PII Sutrisno Bachir yang juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional.  

Tahun 2004 Prabowo pernah maju dalam konvensi Partai Golkar. Ia kalah. Konvensi dimenangkan Wiranto yang kemudian menjadi calon presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Sholahuddin Wahid. 

Tahun 2009, Prabowo kembali unjuk gigi. Kali ini ia punya kendaraan sendiri, Partai Gerindra. Semula Prabowo berniat melenggang bersama Ketua Umum PAN kala itu Sutrisno Bachir yang digandengnya menjadi calon wakil presiden. Namun sayang, pasangan ini sudah layu sebelum berkembang karena tak mampu memenuhi persyaratan kursi dukungan.   

Menurut dia, duet Prabowo-Sutrisno hanya kurang 1 kursi. Pasangan ini diusung oleh Partai Gerindra, PAN, dan Partai Persatuan Pembangunan.  Waktu itu, kata Prabowo, dirinya mengajak koalisi partai Islam karena memiliki banyak teman di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).  

"Pas pendaftaran, kami ditolak karena kurang satu kursi. Gagal deh. Tetapi, dua bulan sesudah itu, saya tambah kursi. Saya tambah dua kursi, PAN empat kursi. Seharusnya cukup. Jadi kalau bicara keadilan dan kejujuran, bagaimana ini?" tutur Prabowo.  

Wakil presiden 

Tak mampu memenuhi syarat dukungan, pasangan Prabowo-Sutrisno pun bubar. Prabowo mengubah haluan dan berlabuh dalam koalisi bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Melalui perundingan yang alot, Prabowo akhirnya "legowo" dipasangkan sebagai calon wakil presiden. 

Prabowo mengaku frustrasi menghadapi orang-orang politik. Menurutnya, politisi di Indonesia banyak yang ingkar janji. Prabowo sama sekali tidak menyebut mengenai kontrak politik antara Gerindra dan PDI-P tahun 2009. 

Sebelumnya diberitakan, Gerindra menagih janji PDI-P yang disebut akan mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden pada 2014. Menurut Gerindra, janji ini merupakan imbalan atas sikap Prabowo yang mengalah menjadi pendamping Megawati pada 2009. 

"Saya suka frustrasi. Menghadapi orang politik kacau, pusing juga saya hadapi orang politik. Kasih tangan ini, kasih yang lain. Kalau saya, saya kasih tangan kanan, saya kasih tangan kanan bukan yang lain," kata dia. 

"Perjanjian di Indonesia hanya bertahan 15 menit," ujar Prabowo. 

Perjuangan 2014 

Kegagalan tak menyurutkan niat Prabowo meraih pucuk pimpinan negeri ini. Untuk ketiga kalinya ia maju bertarung dalam Pemilu 2014. Meski belum mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dari Gerindra, niat Prabowo menjadi Presiden tak bisa ditutupi. 

Jauh-jauh hari ia sudah bergerilya membangung popularitas dirinya. Hasilnya, sejumlah lembaga survei mendapatkan, ia berada di peringkat kedua calon presiden pilihan masyarakat setelah Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta.  
Namun, tak sedikit yang resah dengan popularitasnya. Sekelompok masyarakat mengingatkan soal peran Prabowo dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998. Ia dipecat dengan tidak hormat  terkait kasus ini. Tiga belas aktivis masih hilang hingga kini.

Apakah 2019 prabowo akan mencalonkan lagi menjadi Presiden?

Sumber : Kompas.com
Penulis : Sabrina Asril

No comments:
Write komentar

Interested for our works and services?
Get more of our update !